Pages

Saturday, July 18, 2015

Perasaan yang Lucu

memang perasaan itu lucu
sesaat kau ingin ia ada di genggammu
kemudian hari kau lepaskan ia terbang

sesaat kau rasa hidupmu bahagia dengannya
tak lama kau muak dengan semua serbuk kenangan yg ia tebarkan

memang, perasaan itu lucu

seakan ego menyelimuti sanubari yang paling alami
kau anggap dia properti, kau ubah sesuka hati
kau atur sedemikian rupa sehingga kau lupa bahwa ia juga manusia
ia bisa pergi - laiknya merpati, ia bisa terbang -
ia bisa marah - laiknya singa, ia bisa mengaum -
ia bisa mengkhianati - laiknya manusia, ia punya nafsu -

memang, perasaan itu lucu
Baca Selengkapnya → Perasaan yang Lucu

Monday, April 28, 2014

Kompleks

27 oktober 2007 Aku tidur dengan rasa cemburu yang sedikit menyeruak dari hati. Sampai larut malam ini istriku belum kembali dari perginya. Dia berjanji hanya keluar dengan teman teman Sma-nya dulu,tapi nyatanya sampai jam segini belum kudapat balasan dari 8 pesan singkat yang kukirim padanya. Ada apa ini? 20 oktober 2007,seminggu yang lalu. Ketika pagi hari menemaniku dalam menikmati secangkir teh kesukaan. Dengan ditemani alunan blues yang mengalun indah dari radio tua kesayanganku. Istriku,seperti biasanya,masih saja terlelap dalam mimpi mimpinya yang takpernah bisa kutaksir. Sejenak heningku terusik ketika kudapati telpon genggam istriku bergetar. Aneh,pikirku,selama 3 tahun kita bersama,baru kali ini dia menyetel telpon genggamnya dalam kondisi ''getar''. Aku membuka pesan singkat yang ada didalamnya,tertera nomor yang tak dikenal. Pesan singkat itu berisi, ''hei,jangan lupa nanti malam ya?? xoxo'' Shock tak terkira aku mendapati bait terakhir pesan tersebut. Xoxo,dari yang kutahu,adalah tanda berpelukan. Agar tak membuat istriku curiga,kukembalikan lagi telpon genggamnya ditempat semula. 20 oktober 2007,pukul 8 malam ''Mau kemana bunda??'',tanyaku pada wanita yang kusayangi itu. ''sebentar ayah,bunda mau mengunjungi kawan lama bunda'',''ooh,sampai jam berapa??'',lanjutku. ''tidak lama kok,mungkin jam setengah sepuluh sudah sampai rumah'' tandasnya dengan senyum mengembang yang selalu menggodaku untuk melumat bibirnya yang mungil itu. ''ayah antar ya??'',''ah tidak usah ayah,ayah jaga rumah saja,takut ada pencuri''. ''Ada benarnya juga'',pikirku. ''yaudah hati hati ya bunda,cepat pulang'',''iya ayah,assalamualaikum'' jawabnya seraya mencium tanganku,lalu pergi menghilang seiring tertutupnya pintu itu. Dan kembali aku sendiri,bertemankan televisi yang tak pernah henti menyiarkan acara humor sampah dan sinetron bualan mereka. Aku pun menghibur diriku dalam petikan senar yang kumainkan. Satu jam dua jam,ketika kumulai bosan,kutengok jam dinding. Jam sepuluh lewat limabelas. Pintu itu masih tertutup. ''ahh mungkin lagi macet'' pikirku. Aku pun bergegas ke dapur dan mengambil makanan,mengingat aku punya lambung untuk kuhidupi. Ketika selesai makan,kutengok jam. 12.30. Ini sudah terlalu larut bagi seorang wanita yang notabene istri orang untuk berkeliaran dengan orang lain,bahkan teman lamanya sendiri. Aku pun mengambil telpon genggamku dan menarikan jariku diatasnya. ''bunda,mau pulang jam berapa? Ayah sudah capek menunggu''. Pesan terkirim. Lima belas menit kemudian,pintu terbuka. ''maaf ayah,ditempat bunda tadi hujan,jadi harus menunggu reda'',''ooh,yaudah cepat ganti baju lalu istirahat gih''. Tak tahu lagi aku harus marah atau kasihan melihatnya basah kuyup seperti itu. 21 oktober 2007 Sama seperti pagi kemarin,hanya saja kini aku ditemani Ujang,anak tetanggaku yang kedua orangtuanya sering terlibat cekcok. ''ujang sudah sarapan??'',tanyaku. Dia pun menggeleng,''mama gak bisa masak om,ujang diberi uang 10000 untuk beli makan''. Sejenak aku terkesiap. ''jang,uangnya disimpan ya?? Yuk makan sama om'' jawabku dengan setulus senyuman. Matanya membelalak tak percaya,lalu tanpa banyak bicara aku membawanya ke dapurku dan mengambilkan sepiring nasi hangat dengan telur dadar buatanku,ditambah dengan sambal goreng kentang pemberian ibuku kemarin. ''ini jang,dimakan yaa?? Om mau ke kamar dulu''. Bocah itu mengangguk polos,sembari melanjutkan suapannya. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri,sehingga meninggalkannya didalam rumahku pun tidak jadi persoalan buatku. Aku pun masuk ke kamar,mendapati istriku tengah terduduk. Terlihat matanya masih lemas tanda mengantuk. ''sayang,selamat pagi'',sambutku dengan senyum khasku untuknya. Dia selalu suka senyumku,namun tidak hari ini. Terlihat dalam wajahnya,murung. ''hey,ada apa?'',tanyaku,khawatir. ''tidak ayah,bunda hanya takut saja ayah marah'',''loh marah kenapa bunda? Cerita saja'',ujarku. ''bunda mau bertemu kembali dengan teman teman bunda'',''oh hanya itu? Yaudah gakpapa bunda,mau ayah temani??'',''ah tidak usah ayah,bunda tau ayah capek semalam menunggu bunda,biar bunda pergi sendiri saja'',lanjutnya dengan tersenyum. Salut sekali aku dengan wanita satu ini,dia memang idaman semua pria. Parasnya yang cantik itu menambah sayangku padanya,perilakunya,tutur katanya yang halus,perangainya yang tidak pernah mengecewakanku. Aku lebih dari beruntung bisa mempersunting dia. Dia lalu berjalan pelan menuju kamar mandi,dan mulai terdengar suara basuhan basuhan mandinya. Aku pun terduduk disamping kasurku. Sembari iseng membuka telepon genggam istriku. Satu pesan baru,tertulis jelas di layar utama. Aku membukanya. ''hei,maaf ya soal kemarin,aku janji hari ini akan berbeda dari kemarin. Miss you''. Lebih dari terkerjap,hampir saja kubanting telpon genggam itu ditanah. Namun mengingat adanya ujang,aku urungkan niatku. Kukembalikan telpon genggamnya seperti semula,sesaat kemudian dia keluar dari kamar mandi. Hanya berbalut handuk,membuat siapa saja pria yang sekamar dengannya pasti tergoda. ''bunda mau pergi jam berapa??'',tanyaku. ''sebentar lagi ayah,ini bunda mau bersiap'',jawabnya. Aku pun terdiam,berpikir,apa mungkin istriku ini,yang selama hidupnya berkata akan membaktikan hatinya padaku,berselingkuh?? Aku singkirkan pikiran bodoh itu jauh jauh. ''ayah,bunda berangkat dulu yaa,assalamualaikum'',ucapnya sembari mencium tanganku. ''waalaikumsalam'',aku hanya bisa pasrah melihat wanita itu kembali pergi,seiring tertutupnya pintu itu. Ketika kembali ke dapur,kudapati ujang sudah menyelesaikan makannya. ''udah jang gak usah dicuci piringnya,taruh saja disitu'',ucapku seraya menunjuk ke meja. ''jangan om,kata pak ustad,kita harus membalas kebaikan orang yang sudah baik kepada kita''. Terkesiap aku,tak kupercaya,bocah berumur 7 tahun ini baru saja berbijak ria padaku. Aku saja sudah tak ingat kapan terakhir kali aku berbincang dengan ustad muda itu,ustad yang suka membaktikan dirinya untuk memberikan pelajaran pelajaran moral pada anak anak desa ini.''Begitu mulia'',pikirku. Jam dinding masih menunjukkan pukul 9 pagi,namun mataku seakan tak berkompromi. Aku pun meninggalkan ujang,dan berlalu ke sofa di ruang keluarga. Aku merebahkan tubuhku disitu. ''Ahh nikmatnya pagi ini'',batinku. Entah sudah berapa lama aku terlelap,sampai si Ujang membangunkanku. ''om,ujang pulang dulu ya,sudah maghrib,takut dimarahi papa'',''oh iya jang,salam ya ke papa mama'',bocah itu mengangguk sembari mencium tanganku,lalu pergi menutup pintu yang semula terbuka. Aku kembali terlelap. Namun lelapku tak nyenyak. Baru kusadari kalau ini sudah masuk waktu maghrib. Aku terduduk,lalu pergi ke kamar mengambil sarung. Terbersit di otakku sesuatu hal yang sudah jarang aku lakukan. Ya,aku akan sholat maghrib di masjid. Kulangkahkan kakiku,menyapa para tetanggaku yang sedang duduk duduk bersantai,menikmati senja. Sampailah aku di masjid,setelah mengambil air wudhu,aku lalu baris di shaf yang sudah terbentuk. Masjid yang besar ini,hanya berisi 2 shaf saja. Itupun kebanyakan diisi oleh anak anak kecil yang sudah selesai mengaji di masjid itu. ''aneh'',kataku dalam hati. ''.. Allahu akbar..'' Kembali aku berjalan menuju istanaku,rumah hasil patunganku bersama istriku. Tak besar memang,tapi cukup untuk memberi keteduhan dalam diri kita berdua. Ketika aku membuka pintu,pintu masih terkunci,sama seperti aku meninggalkannya tadi. ''assalamualaikum..'',ucapku setengah berteriak. Sunyi. Tak ada jawaban. Kususuri seisi rumah,namun tak kudapati bidadariku itu. ''kemana dia?'',batinku. Kembali aku meraih telpon genggamku,dan mengetikkan beberapa kalimat di layarnya. ''bunda,sudah sholat maghrib?? Kok belum pulang juga?? Masih lama ya??''. Pesan terkirim. Pintu terbuka ketika jarum jam berhenti di angka 9. ''assalamualaikum'',ucapnya. Lirih,pelan. Aku pun melangkah menuju istriku. Dia terlihat capek sekali. ''maaf ayah,bunda tadi..'',''ssshhhh...'',bisikku seraya menempelkan telunjukku pada bibirnya. Kugendong dia menuju tempat istirahat kami. Kulepas sepatunya. Dan kubiarkan dia terlelap. Tak pernah kulihat istriku seletih ini. Hari hari selanjutnya seakan rekaman dari hari ini. Istriku kembali pergi dengan kawan lamanya,dan aku kembali terduduk sendiri di depan televisi. Kadang ditemani ujang,namun hanya sebentar,mengingat dia yang besok harus bersekolah. Aneh memang,aku yang tidak bekerja ini bisa berkecukupan hidupnya. Sebelum ini,aku adalah pebisnis muda yang bergerak dibidang makanan. Aku memiliki cafe kecil di pusat kota yang tidak pasti pengunjungnya. Namun lambat laun,aku bisa mengatasi masalah itu,dan berhasil memperluas cabangku ke beberapa kota. Itulah alasan kenapa aku tidak terikat jam kerja. Aku pengangguran yang dibayar. 28 oktober 2007,jam 5 pagi. Usai melaksanakan kewajiban subuh. Pintu rumahku terbuka. Istriku masuk dengan santainya. Seakan tak ingat kalau dia baru saja meninggalkan suaminya seharian. Kubiarkan saja dia. Yang kulihat,dia hanya makan sebentar,lalu pergi ke kamar untuk istirahat. Tak pernah kulihat dia setidak peduli ini. Iseng,aku cek telpon genggamnya. Terdapat banyak sekali pesan dari nomor yang tidak dikenal,namun nomor itu sama semua. Pesan terakhir berbunyi, ''terima kasih atas malam ini,sayang. Kamu hebat sekali xoxo'' Lebih dari marah,aku berlalu pergi dari kamarku. Aku tenangkan pikiranku dengan berjalan jalan keluar rumah. Bercanda sejenak dengan si ujang. Bocah itu seakan menjadi pelipur laraku. Semua yang dia katakan,dia ucapkan,selalu berhasil membuatku tertawa. Namun itu tak cukup untuk singkirkan kenyataan bahwa istriku berselingkuh. Ya,aku sudah memiliki terlalu banyak bukti untuk hipotesis itu. Kini yang harus kulakukan adalah menjaga hati ini agar tidak tertutup amarah,dan melakukan tindakan bodoh. Entah apapun tindakan itu. 29 oktober 2007 Istriku membangunkanku. ''ayah,bangun..''. Kembali aku teringat bagaimana nikmatnya dia selingkuh dibelakangku,hingga kini aku jijik dipanggil ayah olehnya. ''ayaah,bangun..!!'',ucapnya setengah berteriak,sambil mencolek jari kakiku. Dia tahu aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Aku pun terduduk bangun. Dia lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam kertas kecil,seperti lakmus. Tak jelas,aku pun meraih kacamataku disamping kasur. ''apa itu??'',tanyaku. ''ayaah,aku hamil..!!!'',ucapnya dengan tersenyum sembari menjatuhkan bulir bulir airmata. Satu hal yang aku tanyakan adalah,bagaimana bisa dia hamil,sedangkan selama seminggu ini aku bahkan tidak menjamah tubuhnya sama sekali?? ''wow,itu berita bagus bunda..!!!'',ucapku berusaha tutupi curigaku. ''kita harus beritahukan kabar gembira ini ke keluarga besar kita'',lanjutku. ''sepertinya jangan dulu,ayah. Biarkan saja mereka tahu dengan sendirinya.'' ucapnya lembut dengan tersenyum. Seakan tak sadar kalau yang dia ucapkan itu bertentangan dengan keinginanku. Hari hari setelah itu,dia tidak pernah lagi keluar malam,mengingat dia yang kini sudah berbadan dua. Waktunya hanya dihabiskan untuk membaca novel kesukaannya dan melihat televisi. Dia juga tak pernah lagi melakukan pekerjaan rumah. Aku yang harus menggantikan posisinya. Pagi pagi sekali aku menyapu,mengepel,membersihkan dapur,memasak,dan semua hal lain yang harusnya dia lakukan. ''Tapi tak apalah,daripada dia keguguran'',batinku. 7 juli 2008,pukul 1 dinihari Istriku terlihat gelisah sekali,berulangkali dia membangunkanku. ''ayaaah,si kecil mau keluar..!!'',teriaknya. Aku yang setengah sadar langsung membopong istriku ke mobil dan melaju menuju rumah sakit terdekat. Dokter yang sudah ada janji dengan kita langsung menangani istriku dengan baik dan cekatan. ''pak,bapak boleh dampingi istri bapak kalau mau'',ujar pak dokter. ''ah tidak dok,saya tunggu diluar saja,saya juga harus memberi kabar dengan keluarga besar'',jawabku. ''jangan lupa berdoa ya pak'',lanjut pak dokter seraya tersenyum. ''dari wajah pak dokter saja saya yakin kalo proses kelahiran ini berhasil'',ucapku sekenanya. Dokter itu tersenyum lalu berlalu pergi ke ruang operasi. Aku pun terduduk di depan ruang operasi,sembari tak henti hentinya mengetikkan pesan singkat pada keluargaku dan keluarga istriku akan kabar bahagia ini. Sembari tak henti juga mulutku berdzikir berdoa agar proses kelahiran ini lancar tanpa ada gangguan. Satu setengah jam berlalu. Pak dokter itu keluar dari ruangan operasi. ''selamat pak,anda sudah menjadi ayah sekarang,anaknya lahir dengan normal dan sehat,jenis kelaminnya perempuan,istri anda juga sehat wal afiat,bapak boleh menengok istri bapak sekarang'',''terima kasih banyak,dok'',ujarku sambil berlari kecil memasuki ruang operasi. Kudapati istriku sedang menyusui bayi mungil itu. ''hai ayah,anakmu sudah lahir'',ujar istriku sembari tersenyum manis sekali. Aku memeluknya dengan hangat,sejenak kulupakan kebiasaan buruknya 9 bulan lalu. Aku juga baru menyadari kalau dia baru saja mengatakan ''anakmu..'',padahal sudah jelas kalau bayi itu bukan darah dagingku. 9 agustus 2008 Setelah sholat ashar,aku beristirahat di kamarku. Seketika telpon genggam istriku bergetar kembali. Kulihat layarnya,tertulis nomor yang mungkin akan selalu tercetak di otakku. Kubuka pesannya,disitu tertulis, '' hei sayang,malam ini mampir yaa?? Miss you '' Seperti terbiasa,aku pun meletakkan kembali telpon genggam istriku. Namun kali ini,aku mempunyai sebuah rencana. ''ayah,bunda mau pergi ke rumah keluarga bunda dulu ya'',''oh iya bunda,hati hati ya''. Lalu istriku menutup pintu,dan pergi menjauh. Aku berjingkat,dan mengintip lewat jendela. Istriku memakai mobilku,akhirnya aku pun mengeluarkan sepeda motor kesayanganku. Aku ikuti dia. Aku kenal jalan rumahnya,dan ini bukan jalan menuju rumahnya. Dia pergi agak jauh dari rumah. Menuju ke pinggiran kota. Dia berhenti didepan sebuah rumah kecil. Lalu dari rumah itu keluar seorang pria. Sayangnya,aku mengenalnya. Pria itu adalah kawan baik istriku. Dia adalah teman satu gengnya sewaktu sma. Mereka berdua berpelukan sembari masuk ke dalam rumah. Suasana begitu hening sampai aku bisa mendengar suara pintu itu dikunci. Aku turun dari motorku,kutuntun didepan rumahnya,dan mulai berjingkat. Aku mengintip lewat jendela,istriku sedang bermesraan dengan lelaki itu. Panas sekali hatiku,namun aku sukses meredam amarahku. Sejenak kemudian mereka masuk kedalam kamar,dan kembali bisa kudengar pintu kamar itu dikunci. Aku kembali ke sepeda motorku,mengambil perkakas. Dengan hati hati aku mencongkel jendela rumah itu. Aku berhasil masuk kerumahnya. Aku berjingkat menuju kamar maksiat itu. Terdengar desahan desahan istriku yang begitu kukenal dan ''sempat'' kusayang. Aku menengok ke lubang ventilasi kamar itu. Kulihat,dengan mata kepalaku sendiri,istriku sedang bermesraan dan bercumbu dengan lelaki itu. Tanpa pikir panjang,aku pun menendang pintu kamar itu. Ketika kudapati lelaki itu bertelanjang dada,sedang menggoda istriku. Aku pun kalap. Istriku berteriak. Namun percuma,kawasan itu begitu sepi sehingga tak ada yang datang. Aku langsung terlibat baku hantam dengan pria itu. ''bajingan kau..!!!'',ucapku seraya melayangkan tinjuku padanya. Kami berpukulan cukup sengit. Istriku,setelah selesai berpakaian,kabur dengan mobilnya. Sedangkan aku masih memukuli lelaki itu. Tak bicara. Tak berhenti. Aku menindihnya,dan terus menimpakan tinjuku kearah mukanya. ''ampun mas,ampuun.. Aku cuma ingin hidup..!!'',teriaknya. Namun telingaku sudah tertutup oleh amarahku. Aku berhenti ketika kulihat dia sudah tergeletak tak berdaya,mukanya penuh lebam. Aku langsung pergi kembali ke rumahku. Sesampainya dirumah,kudapati istriku terduduk menangis sedang meletakkan pakaiannya kedalam koper besar. Aku menyeret koper itu dan membuangnya. Isinya berhamburan keluar. ''apa yang ada di otakmu sehingga kamu tega berselingkuh dibelakangku hah??'',''maaf mas,maaf''. Berulangkali kata itu yang kudengar. ''lalu kenapa sekarang kamu berkemas?? Kamu mau meninggalkanku apa?? Sudah 4 tahun kita bersama,sudah gilakah kamu??'',''maaf mas,aku khilaf'',''aku juga ingin minta penjelasan soal anak itu,kamu jujur sama aku sekarang,apakah itu darah dagingku?? Karena aku tidak yakin itu anakku'','' benar mas,itu anakmu'',''JANGAN BOHONG..!!!'',''ampun mas,ampun'',''ampun apa?? Kamu kemanakan otakmu itu hah?? Tak puas kamu dengan aku yang sudah mencintaimu sama seperti dahulu?? Apa harus kamu cari kehangatan pria lain diluar sana?? Kembalikan istriku yang dulu kucinta..''. Kugoncang pundaknya yang bergetar. Karena tak kuasa lagi,aku pun meninggalkannya menangis tersedu,dan kupacu sepeda motorku menuju jembatan tua dekat desaku. Inilah satu satunya kenanganku yang paling berharga dengan istriku. Menuju kemari adalah kesalahan bagiku,semua kenangan itu kini menyiksaku,dimana sekarang aku kembali jatuh hati lagi padanya. Kenangan ketika malam itu aku kabur dengannya kemari,bersandar pada satu pohon rindang disini,tertidur,dan siangnya dibangunkan oleh tukang becak yang kebetulan lewat. Kenangan ketika sepatu kesayangannya terjatuh kedalam sungai yang tak terlalu dalam,dan tuksedo ayahku pun basah karena usahaku menyelamatkan sepatunya. Kenangan ketika kami menorehkan inisial nama kami di pohon rindang itu. Ahh semua kenangan itu menyiksaku nikmat. Dapat kulihat bekas torehan inisial itu,sekarang semakin buram dan kabur terkena guyuran hujan dan terpaan usia. Sama seperti sang empunya. Perlahan aku bersandar pada jembatan itu,letaknya yang dipinggir desa membuat malam itu menjadi sepi. Tak ada satu orang pun lewat pada malam itu. Aku merasa tenang. Aku merasa sendiri. Aku merasa inilah saat saat untukku. Kuberanikan diri duduk di pinggiran jembatan itu. Kurasakan angin malam pelan menghembusku,seakan menambah hasratku untuk lompat dan jatuh. Ya,aku ingin bunuh diri. Aku tak tahu mengapa seperti tidak ada tempat lain untukku bunuh diri,hanya jembatan inilah yang terlintas di otakku. Mungkin karena timbunan kenanganku dengan istriku... mantan istri,maksutku. Aku ingin,setidaknya disinilah aku gila karena dia,hidup karena dia,tertawa bersamanya,dan kini,mati karena dia. Perlahan aku berdiri,dan mengumpulkan seluruh keberanianku,untuk terjun. Sejenak aku mendengar,sayup sayup suara sirine. Polisi. Semakin keras,dan dekat. ''pak,ini bisa diselesaikan dengan baik baik,pak. Saya sudah menangkap pria idaman lain istri anda,beserta istri anda,pak. Turun ya pak??''. Teriakan polisi itu membuyarkan malamku yang sunyi. 15 menit kemudian,warga sudah mengelilingiku,mencoba bernegosiasi denganku. Aku bisa dengar mereka menggunjing tentang istriku. Bagaimana seorang wanita berjilbab pendiam,pemalu,cantik,dan sholehah bisa berselingkuh. ''tanyakan saja pada dia,bu'',ucapku perlahan. Aku menutup mataku. Sesaat,kurasakan hening yang kudambakan. Namun tak sehening awal tadi. ''pak,semua masalah pasti ada solusinya,pak. Yang penting anda harus tenang..!!'' Kututup mataku,kubentangkan tanganku,kucoba rasakan kebebasan sesaat ini. Teriakan orang orang semakin keras kudengar,namun entah mengapa,seakan suara mereka memudar. Yang hanya bisa kudengar adalah tiupan angin yang perlahan berbisik,''turunlah.. Aku punya kejutan untukmu..''. Perlahan kutundukkan kepalaku,dan condongkan tubuhku kedepan. Aku jatuh. 27 oktober 2007, 23.30 Aku tidur dengan rasa cemburu yang sedikit menyeruak dari hati. Sampai larut malam ini istriku belum kembali dari perginya. Dia berjanji hanya keluar dengan teman teman Sma-nya dulu,tapi nyatanya sampai jam segini belum kudapat balasan dari 8 pesan singkat yang kukirim padanya. Ada apa ini? Aku terkejut dengan goyangnya kasurku. Kurasakan ada yang naik ke kasurku. Hembusan nafasnya hangat,bau parfumnya akrab di hidungku. Kunikmati sesaat. Kecupan hangat bibirnya membasahiku pipiku. Dia pun tertidur pulas disampingku. Aku terbangun. Terduduk. Istriku ikut terbangun. ''ayaahh..'',ucapnya seraya memelukku,hangat sekali,nyaman sekali. ''bunda sudah pulang?? Kok larut sekali??'',ujarku. Dia hanya tersenyum dan memelukku,erat sekali. Seraya berbisik, ''.. Bunda sudah bisa menaksir mimpi ayah,dan ayah bisa pastikan sendiri,kalau hati bunda,yang ada diraga bunda,hanya untuk ayah ..'' ''.. Beruntung sekali bunda bisa menjadi istri ayah,dan tidak akan pernah menyia nyiakan ayah dengan pergi dan mencari kehangatan lain diluar sana ..'' ''.. Dihati ayah,bunda bernaung ..'' ''.. Dihati ayah,bunda tertidur ..'' ''.. Dihati ayah,bunda baktikan seluruh hidup bunda untuk menjadi pendamping ayah ..'' ''.. Dihati ayah,bunda menutup mata ..'' Dan dimalam itu,aku mendapatkan istriku kembali..
Baca Selengkapnya → Kompleks

Saturday, February 22, 2014

Kunci Hidup

Terkadang,orang orang lupa akan tujuan hidup mereka. Mereka hanya tau berhasil aja tanpa  peduli sejarahnya. Sejatinya apa sih tujuan hidup manusia?? Apakah mendapatkan uang berlimpah?? Punya rumah 17 tingkat?? Pasangan hidup yang sempurna dan mapan?? TIDAK

Tujuan hidup manusia itu simple,bahagia dan membahagiakan. Ada satu kalimat yang sering terngiang dipikiran saya.
Jika kamu tidak bisa memberi senyum pada orang lain,jangan melemparkan air mata kepada mereka.
Simple kan?? Tapi nusuk men. Pernahkah anda tertawa pada kegagalan anda?? Pernahkah anda menemui pengemis dipinggir jalan dan mencoba bercanda dengannya?? Jika tidak,cobalah,maka anda akan tau arti bahagia sesungguhnya :)
Baca Selengkapnya → Kunci Hidup

I wanna be like dad in this story :)

Steven adalah seorang karyawan perusahaan yang cukup terkenal di Jakarta, memiliki dua putra. Putra pertama baru berusia 6 tahun bernama Leo dan putra kedua berusia dua tahun bernama Kristian. Seperti biasa jam 21.00 Steven sampai di rumahnya di salah satu sudut Jakarta, setelah seharian penuh bekerja di kantornya. Dalam keremangan lampu halaman rumahnya dia melihat Leo putra pertamanya di temani Bik Yati, pembantunya menyambut digerbang rumah.

“Kok belum tidur Leo?” sapa Steven sambil mencium anaknya. Biasanya Leo sudah tidur ketika Steven pulang dari kantor dan baru bangun menjelang Steven berangkat ke kantor keesokan harinya.

“Leo menunggu papa pulang, Leo mau tanya, gaji papa itu berapa sih Pa?” kata Leo sambil membuntuti papanya.

“Ada apa nih,kok tanya gaji papa segala?”

“Leo cuma pingin tahu aja kok pah?”

“Baiklah coba Leo hitung sendiri ya. Kerja papa sehari di gaji Rp.600.000,-, nah selama sebulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Nah berapa gaji papa sebulan?”

“Sehari papa kerja berapa jam Pa?”

“Sehari papa kerja 10 jam Leo, nah hitung sana, Papa mau melepas sepatu dulu.”

Leo berlari ke meja belajarnya dan sibuk mencoret-coret dalam kertanya menghitung gaji papanya. Sementara Steven melepas sepatu dan meminum teh hangat buatan istri tercintanya.

“Kalau begitu,satu bulan Papa di gaji Rp.15.000.000,-,yah Pa? Dan satu jam papa di gaji Rp.60.000,-.” Kata Leo setelah mencoret-coret sebentar dalam kertasnya sambil membuntuti Steven yang beranjak menuju kamarnya.

“Nah, pinter kamu Leo. Sekarang Leo cuci kaki lalu bobok.” Perintah Steven,namun Leo masih saja membuntuti Steven sambil terus memandang papanya yang berganti pakaian.

“Pah, boleh tidak Leo pinjam uang Papa Rp.5.000,- saja?” tanya Leo dengan hati-hati sambil menundukkan kepalanya.

“Sudahlah Leo,nggak usah macam-macam, untuk apa minta uang malam-malam begini. Kalau mau uang besok aja, Papa kan capek mau mandi dulu. Sekarang Leo tidur supaya besuk tidak terlambat ke sekolah!”

“Tapi Pah…”

“Leooo!!! Papa bilang tidur!” bentak Steven mengejutkan Leo.

Segera Leo beranjak menuju kamarnya. Setelah mandi Steven menengok kamar anaknya dan menjumpai Leo belum tidur. Leo sedang terisak pelan sambil memegangi sejumlah uang. Steven nampak menyesal dengan bentakannya. Dipegangnyalah kepala Leo pelan dan berkata: “Maafkan Papa ya nak. Papa sayang sekali pada Leo.” ditatapnya Leo anaknya dengan penuh kasih sambil ikut berbaring di sampingnya.

“Nah katakan pada Papa,untuk apa sih perlu uang malam-malam begini. Besuk kan bisa, jangankan Rp.5.000,- lebih banyak dari itupun akan papa kasih.”

“Leo nggak minta uang Papa kok, Leo cuma mau pinjam. Nanti akan Leo kembalikan, kalu Leo udah menabung lagi daru uang jajan Leo.”

“Iya, tapi untuk apa Leo?” tanya Steven dengan lembut.

“Leo udah menunggu papa dari sore tadi, Leo nggak mau tidur sebelum ketemu Papa. Leo pingin ngajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang bahwa waktu papa berharga. Jadi Leo ingin beli waktu Papa.”

“Lalu.” tanya Steven penuh perhatian dan kelihatan belum mengerti.

“Tadi Leo membuka tabungan, ada Rp. 25.000,-. Tapi karena Papa bilang satu jam papa dibayar Rp.60.000,- maka untuk setengah jam berarti Rp. 30.000,-. Uang tabungan Leo kurang Rp. 5.000,-. Maka Leo ingin pinjam pada Papa. Leo ingin membeli waktu papa setengah jam saja, untuk menemani Leo main ular tangga. Leo rindu pada papa.” Kata Leo polos dengan masih menyisahkan isakannya yang tertahan.

Steven terdiam, dan kehilangan kata-kata. Bocah kecil itu dipeluknya erat-erat, bocah kecil yang menyadarkan bahwa cinta bukan hanya sekedar ungkapan kata-kata belaka, namun berupa ungkapan perhatian dan kepedulian.


Sumber :)
Baca Selengkapnya → I wanna be like dad in this story :)

Untukmu pt. 2

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.



Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.



Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.



Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.



Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.



Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.



Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.



Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.



Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.



“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.



Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”



“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.



Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.



Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.



Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.



Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.



Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.



Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.


Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.


Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.



Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.



Istriku Bella tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu., dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!





Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.



Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”





Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”



Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”



Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.


Sumber (dengan perubahan sedikit :p)
Baca Selengkapnya → Untukmu pt. 2

Saturday, October 19, 2013

Aku kalah

Aku tak ada lagi dalam hatimu
Aku hanyalah daging dan darah

Sangat mudah singkirkan aku
Kau telah buatku musnah

Singgahku tak bertempat lagi dalam hayatmu
Wujudku berserah

Dalam waktu yang kembali tak menentu
Aku kalah

Sidoarjo,12 Oktober 2013
Baca Selengkapnya → Aku kalah

Thursday, August 15, 2013

Hari itu ada yang baru

Bersama kita gerus waktu yang semu
Hingga tak terasa 4 minggu tlah berlalu
Kerikil kecil sampai serpihan gunung terus memburu
Namun kita lewati dengan haru

Senin itu
Kau duduk dengan tersipu
Menemuiku yang sedikit ragu
Namun tetap maju

Hempasan demi hempasan kata terus tercipta
Engkau dengan setia memasang telinga
Namun seakan ingin mengusap air mata
Mencoba menerka apa yang ingin ku kata

Secara tiba-tiba
Kata itu keluar dengan sempurna
" ... Maukah kau menjadi belahan jiwa ... "
" ... Dan berjanji akan selalu ada ... "

Aku ingat sekali ekspresimu waktu itu
Ya,ekspresi wajah yang meragu
Meragu,apakah benar ini untukmu?
Meragu,apakah mungkin engkau milikku

Namun,sesaat kemudian engkau terkesiap
Secara sigap engkau jawab pertanda siap
" ... Ya,engkau pasti sudah tahu jawabanku ... "
" ... Ya,aku mau menjadi seperti itu ... "

Seketika,berbunga hati sejadinya
Namun kusembunyikan demi para sipil yang memirsa
Kuberikan senyum terindah,tanpa memaksa
Untuknya,hanya dia

Kini,4 minggu saksi hubungan yang terjalin
Bahagia,senang,sedih,gembira tlah terasa
Tertawa bersama,menangis bersama
Bersandar dan tersenyum bahagia

Dan ingatlah,ini kutakan hanya padamu
Sungguh ini berasal dari lubuk hati yang paling jauh
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu karena Allah,bukan karena nafsu
Baca Selengkapnya → Hari itu ada yang baru

Wednesday, August 7, 2013

Ano Onna

Terlihat seorang wanita muda
Duduk termenung menemani senja
Sambil sedikit menyeka keringatnya
Dan mencoba hapuskan air mata

Dunia melihatnya tak setara
Tatapan benci dan hina jadi santapannya
Air mata menjadi sahabatnya
Ditambah senyum yang perlahan sirna

Hari demi hari pun dilaluinya
Walau dunia menuduhnya zina
Senyum mengambang jelas dalam wajahnya
Walau ada sedikit rasa duka

Hati kecil berkata
Untuk mendobrak semua yang ada
Namun diurungkan niatnya
Dan kembali mengurung luka

Walau dunia menumpukan masalah padanya
Tetap tawa kecil terdengar dari balik hatinya
Tatapan manja keluar dari matanya
Panjatan doa terpancar dalam mulutnya

Inilah calon penghuni surga
Yang tak mengindahkan masalah dunia
Namun memilih Allah sebagai sutradara hidupnya
Dan syaitan sebagai musuh abadinya
Baca Selengkapnya → Ano Onna

Posesif (English Version)

My dear,sit awhile with me
And listen

even if i never touched your body
I know,somehow,that's mine
And promise me,just a little be
That you're mine

And when tomorrow's come
My breath will blocked some
Cry for me,on an eternal cemetery
The sadness that burdened by silence

If god has a heart
To separated what was never break apart
Then i'll release you
To someone who will understand you

Really i am happy
To see you smile,even if it's not for me
Cause i know,whoever that person will be
I believe,inside him,you'll see me
Baca Selengkapnya → Posesif (English Version)

Saturday, August 3, 2013

Cerita untuk Saksiningtyas

Cinta itu butuh kesabaran...
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita ???
Hari itu,,,aku dengan nya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia.....
Pernikahan kami sederhana tapi sangat meriah.....
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula Ketika kami pacaran dia sudah sukses dalam karir nya.
Kami berbulan madu di tanah suci,,itu janjinya ketika kami berpacaran Setelah menikah aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci....
Aku sangat bahagia dengan nya,,dia sangat memanjakan aku. Sangat terlihat rasa cinta dan sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang,kami pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Aku bahagia menikah dengannya.
5 Tahun sudah kami menikah, sangat tak terasa waktu berjalan, walaupun kami
hanya berdua saja.
Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu - satunya dalam keluarga nya,,jadi aku harus berusaha untuk dapat meneruskan generasi nya...
Alhamdulillah suamiku mendukung ku.... Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan NYA.
Tapi keluarga nya mulai resah,, Dari awal kami menikah ibu & adiknya tidak menyukaiku,, aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka,,tapi aku menutupi dari suami ku, didepan suami ku,,mereka sangat baik pada ku,,tapi dibelakang suami ku,,aku dihina - hina oleh mereka...
Pernah suatu ketika, 1 tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan,, mobilnya hancur Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda.
Ia dirawat dirumah sakit,,pada saat dia belum sadarkan diri,,aku selalu menemaninya siang & malam, kubacakan ayat - ayat suci Al - Qur'an,aku sibuk bolak - balik rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosialku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

Ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami,,aku melihat didalam kamarnya ada ibu, adik - adiknya dan teman - teman suamiku, dan satu lagi aku melilhat seorang wanita yg sangat akrab dengan ibunya. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar,,tapi aku tak boleh sedih di depannya.
Kubuka pintu yg tertutup rapat itu,sambil mengatakan "Assalammu'alaikum" mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku,,, suamiku menatapku penuh manja,,mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup. Tangannya melambai,,mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya yg erat. Setelah aku menghampirinya, ku cium tangannya sambil berkata "Assalammu'alaikum", ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih tapi penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Ibu nya lalu berbicara padaku ...
"Fis, kenalakan ini Desi teman Fikri"
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi, dan diya sangat akrab dengan keluarga suamiku.
Dan akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga.
Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan,,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka - luka di kepala suamiku,,,baru sebentar aku membersihkan mukanya,,tiba - tiba adik ipar ku yg bernama Dian mengajakku keluar,ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata " lebih baik kau pulang saja " Ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. "
Aku pun tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat, karena sikologisnya masih labil,, Aku berdebat dengannya mengapa aku tidak boleh pamitan pada suamiku, tapi tiba - tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia mengatakan hal yg sama, ia akan memberi alsan pada suamiku mengapa aku pulang tak pamitan pada nya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah suamiku tetap saja membenarkannya, akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dlm kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.
Hari itu, aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarang rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami, sambil melihat ikan - ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya " Ada apa kamu memanggil ku ?", Ia berkata " Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang " Aku menjawab " Ia sayang aku tahu, aku sudah mengemasi barang - barang kamu di travel bag dan kamu sudah pegang tiket bukan ?"
"Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sdh lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku kan pulang dengan mama ku " Jawab nya tegas "Mengapa baru bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana ?" tanya ku balik kepada nya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahu rencana kepulanggannya itu, padahal aku bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
" Mama minta aku yang menemani nya saat pulang nanti " jawab nya tegas" Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan ?" lanjut nya lagi sambil memeluk ku dan mencium keningku.
Hatiku sedih, dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku, dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya.
Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarga nya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu pada ku karena suamiku sangat sayang pada ku, aku memutuskan agar ia saja yg pergi, dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya. Jadi seluruh keluarga nya harus komplit, aku pun tak diperdulikan oleh keluarganya harus datang atau tidak, tidak hadir justru membuat mereka sangat senang, aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluannya yang akan dibawa ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku lalu aku peluk erat dirinya, hati ini bergumam seakan terjadi sesuatu,,tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah di tinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama - sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian tidak punya teman, hanya pembantu saja teman ngobrolku.
Hati ini sedih akan di tinggal pergi oleh nya.
Sampai keesokan hari nya, aku menangis..menangisi kepergiannya.
Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelpon ku.
Berjauhan dengan suamiku, sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadi aku tak terlalu kesepian di tinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami buruk,saat ia di sana aku pun jatuh sakit...rahimku sakit sekali seperti dililit oleh tali,,,tak tahan aku menhan rasa sakit dirahimku ini,sampai - sampai aku mengalami pendarahan,, aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki - lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stdium 3.... Aku menangis,,apa yang bisa aku banggakan lagi,,mertuaku akan semakin menghinaku,, ,suami ku yang malang ,,yang berharap akan punya keturunan dari rahimku... Aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan aku hanya memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku, aku menunggu ia pulang,,kapan ia pulang, aku tak tahu..
Sementara suamiku disana,,aku tidak tahu mengapa ia selalu marah - marah jika menelponku,, bagaimana aku akan cerita kondisiku jika ia selalu marah – marah terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu,,dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.
Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita pada nya.
Setiap hari aku menanti suami ku pulang, hari demi hari aku hitung....
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto - foto kami, ponselku berbunyi, menandakan ada sms yang masuk.
Ku buka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms, ia menulis "aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulang nya satu hari lagi, aku kabarin lagi".
Hanya itu saja yang diinfokannya, aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba,,aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan aku akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir - akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubuka kan pintu untuknya ia pun mengucap salam, sebelum masuk aku pegang tangannya ke depan teras, ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan ku cuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami, setelah itu aku pun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksi nya ...
Masya Allah ia tidak mencium keningku, ia langsung naik keatas, ia langsung mandi dan tidur,tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikiran, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.
Biasa nya kami selalu berjama'ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangun kannya, aku helus mukanya, aku cium kening nya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka'at.
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku liat dia dari balkon kamar kami dia bersiap - siap untuk pergi, aku memanggil nya tapi ia tak mendengar, lalu aku langsung ambil jilbabku, aku lari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku, aku mengejarnya tapi ia begitu
cepat pergi, ada apa dengan suamiku...mengapa ia sangat aneh terhadapku ?
Aku tidak bisa diam begitu saja firasatku ada sesuatu.
Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku, kebetulan Dian yang angkat telpon nya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab "Loe pikir aja sendiri !!!" telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini ? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia pulang dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan ku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami, kami berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat, ia bertanya dengan nada yg keras, suamiku telah berubah.
Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah di tuduh nya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu yang aku pegang, aku hanya berdo'a agar suamiku sadar akan prilakunya.
2 Tahun berlalu, suamiku tak berubah juga, aku menangis tiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja kenal, kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna, walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapi segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan ia tak pernah bertanya obat apa yang aku minum.
Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji jadi aku tak perlu repot - repot meminta uang pada nya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.
Sungguh suami yang dulu aku puja, aku banggakan sekarang telah menjadi orang asing, setiap aku tanya ia selalu meyuruhku untuk berpikir sendiri.
Tiba - tiba saja malam itu, setelah makan malam selesai, suamiku memanggilku.
"ya ada apa Yah !" sahutku dengan memanggil nama kesayangannya "Ayah"
"Lusa kita siap - siap ke Sabang ya !" Jawabnya tegas
" Ada apa ?" Mengapa ?" sahutku penuh dengan keheranan
Astaghfirullah. ..suami ku yang dulu lembut menjadi kasar, diya mebentakku,,tak ada lagi diskusi antara kami.
Dia mengatakan " Kau ikut saja jangan banyak tanya !!! "
Aku pun lalu mengemasi barang - barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis,sedih karena suamiku yang tak ku kenal lagi.
2 Tahun pacaran, 5 tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buat ku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami sekarang menjadi dingin, sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak tapi aku tak bisa, suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, bicara dengan nada tinggi, suka membanting barang - barang, dia bilang perbuatan itu menunjukkan ketidak hormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini sendiri.

Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur, karena terus berpikir. Keluarga besar nya telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik - adiknya, aku tidak tahu ada acara apa ini.. Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dlm lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua itu telah ada sebelum suamiku lahir.
Tiba - tiba Tante Lia, tante yang sangat baik pada ku memanggil ku untuk segera berkumpul diruang tangah, aku pun ke ruang keluarga yag berada di tengah rumah besar itu, rumah zaman peninggalan belanda diaman langit - langit nya lebih dari 4 meter. aku duduk disamping suamiku, suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya pada nya, tiba - tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya membuka pembicaraan.
"Baiklah,karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha ! " Nenek nya bicara sangat tegas.. Dengan sorot mata yang tajam.
" Ada apa ya Nek ?" sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab " Kau telah gabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda - tanda kehamilan yang sempurna, sebab selama ini kau selalu keguguran !!'
Aku menangis, untuk inikah aku diundang ke mari, untuk dihina atau di pisahkan dengan suamiku.
"Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu, sebelum kau menikah dengannya, tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur, dan akhirnya menikahlah ia dengan kau." Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
"Dan aku dengar dari ibu mertuamu, kau pun sudah berkenalan dengannya"
Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya diam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian.
Nenek nya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari pembicaraannya ialah dengan wajah yang sangat menantang ia berkata " kau mau nya gimana ? kau di madu atau diceraikan ?"
Masya Allah...... kuat kan hati ini, aku ingin jatuh pingsan, hati ini seakan remuk mendengar nya, hancur hati ku, mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu tersebut, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
"Fish, jawab !! " Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab Aku langsung memegang tangan suamiku, dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas....... ..
" Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami."
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cinta ku di bagi, pada saat itu juga suami ku memandangku dengan tetesan air mata, tapi mata ku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suami ku, "Ayah siapakah yang akan menjadi sahabat ku dirumah kita nanti Yah ? " Suamiku menjawab " Dia Desi ! "
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara " Kapan pernikahan nya berlangsung ? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek ?" Ayah mertuaku menjawab "Pernikahannya 2 minggu lagi."
" Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruh nya mengurus KK kami ke kelurahan besok" setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi, air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar, aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi,,sakit. ..diiringi akutnya penyakitku. Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini ?
Aku berjalan menuju ke meja rias, ku buka jilbabku, aku bercermin sudah tidak cantikkah aku ini, ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok, ku lihat wajahku,,ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis, kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba - tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suami ku datang, ia berdiri dibelakangku, ,tak kuhapus air mata ini aku langsung memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan "terimah kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku, jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti ! iya kan ?"
Suami ku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya knp rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakaishampo, dalam hati ku mengapa ia sangat cuek ? ia sudah tak memanjakan ku lagi.. Lalu dia bilang bilang "sudah malam, kita istirahat yuk "
"Aku sholat isya dulu baru aku tidur" jawab ku tenang.
Dalam sholat, dalam tidur aku menangis, ku hitung waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalo Desi orang Sabang juga. Sudahlah ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku, diamana rasa sayang dan cintanya itu.
Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat - saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang tidur pulas, apa salahku sampai ia berlaku kejam kepada ku. Aku save di my document yang bertitle "Aku mencintaimu Suamiku "
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar, aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, mungkin aku takkan bias melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama,, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
"Apakah kamu sudah siap ?"
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata : "Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kaki nya sebagaimana kamu mencuci kaki ku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do'a di ubun – ubunya sebagaimana yang kamu lakukan pada ku dulu lalu setelah itu....." tak sanggup aku ingin meneruskan pembicaraan ini, aku ingin menagis meledak, Tiba - tiba suamiku menjawab "lalu apa Bunda ?"
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk,aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar - binar... "bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan ?" pinta ku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata " Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda ?" sambil ia menghelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sidikit membungkuk karena diya sangat tinggi, aku hanya sedada nya saja.
Dia tersenyum, sambil berkata " Kita liat saja nanti ya !" dia memelukku dan berkata, "bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama" lalu ia mencium keningku, aku langsung memeluk nya erat dan berkata " Ayah,apakah ini akan segera berakhir ? Ayah kemana saja ? Mengapa ayah berubah ? Aku kangen sama ayah ? Aku kangen belaian kasih sayang ayah ? Aku kangen dengan manjanya ayah ? Aku kesepian ayah ? Dan satu hal lagi yang harus ayah tau bahwa aku tidak pernah berzinah ! Dulu waktu awal kita pacaran,aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari." Bukan bearti aku pernah berzina ayah. Aku langsung bersujud di kakinya dan mencium kaki imamku sambil berkata " Aku minta maaf ayah telah membuatmu susah", saat itu juga, diangkatnya badanku,ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali.
Tiba - tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan ku, dan ia bertanya " bunda baik - baik saja kan " tanya nya dengan penuh khawatir.
"aku pun menjawab, bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah membuatku baik Yah" aku tak bisa bicara sekarang. Karena dia akan menikah. Aku tak mau buat diya khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.
Setelah tiba dimasjid, ijab qabul pun dimulai. Aku duduk di sebrang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan "Ayah Jangan" tapi aku ingat akan kondisi ku.
Jantung ini berdebar kencang, ketika mendengar ijab qabul tersebut. Begitu ijab qabul selesai, aku menarik napas panjang, Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini, ya,,aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang – orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku sangat aneh, wajahku yang selalu tersenyum tapi hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja, tak mencuci kaki nya. Aku sangat heran dengan prilaku nya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini ?
Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga ku...
Sementara itu Desi sambut hangat di dalam keluarga suamiku,tak seperti aku yang di musuhinya.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa !! Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tau apa yang mereka lakukan didalam.
1/3 malam, pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah, ku dekati lalu ku lihat.... Masya Allah, suamiku tak tidur dengannya,ia tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus mukanya yang lelah, tiba - tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
"kamu datang ke sini, aku pun tau " ia langsung berkata seperti itu, aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail, ia mengatakan "maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta , biar Desi pulang dengan mama,papa Dan juga adik - adikku" Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, aku telah meresakan kehadirannya saat ini. Tapi masih bisakah engaku ijinkan aku untuk mersakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.
Suamiku berbisik, "Bunda kok kurus ?"
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata "Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi ?"
" Aku kangen sama kamu Bunda " Aku tak mau menyakitimu lagi, kamu sudah terluka oleh sikapku yang egois" Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, " Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda...

Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalo bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti harta ayah, dan satu lagi ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya klo bunda gak mau berbuat seperti itu, dan seperti itu di beri tanda kutip ( "seperti itu" ), ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung, dan ayah berpikir klo bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda ".
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan didirinya, hanya karena omongan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab "Aku sudah ceritakan itu kan Yah, aku tidak pernah berzinah, dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa kamu, banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluaraganya juga. Karna aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.
Keesokan harinya.....
Katika aku ingin bangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali..aku pendarahan.. suamiku kaget...
Suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit....
Jauh sekali aku mendengar suara zikir suamiku....
Aku merasakan tanganku basah...
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran. Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan " Bunda,,Ayah minta maaf ,,,,!!"
Berapa kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hati ku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku.
Aku berkata dengan suara yang lirih " Yah....Bunda ingin pulang,,bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya Yah....", "Ayah jangan berubah lagi ya !!! Janji ya Yah... !!! Bunda sayang banget sama Ayah ".
Tiba - tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakit nya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi, aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku, kulihat wajahnya yang tampan, linangan air matanya.
Sebelum mata ini tertutup ku lafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafas ku.
Untuk Ibu mertuaku : "Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdo'a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya bukti nya Ma. Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma ? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi dengan ku, menantumu kau bersikap sebaliknya."
Setelah ku buka laptop,ku baca curhatan istriku
Ayah,,mengapa keluargamu sangat membenciku
Aku dihina oleh mereka ayah.
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu ?
Pernah suatu ketika, aku bertemu Dian di jalan, aku menegornya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidak sukaannya. Sangat terlihat Ayah.
Tapi ketika mengaku bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah.
Aku tak bisa berbicara ttg ini padamu, karen aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah.
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku
Aku sangat marah....
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya.
Aku tak mau sakit hati lagi.
Ya Allah kuatkan aku,,maafkan aku
Engkau Maha Adil.
Berilah keadilan ini padaku Ya Allah
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku.
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja - manja lagi padamu.
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini.
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku.
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah.
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu
Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku aku harus sadar diri
Ayah,,sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku ?
Ayah aku masih tak rela tapi aku harus ikhlas menerimanya
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir
Sebelum ajal ini menjemputku ayah...aku kangen ayah dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu Bun… Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi ke Pulau Kayu ini
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwarna pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
Bunda akan selalu hidup dihati ayah.
Bunda... Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah...
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku
tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, dalam kesendirianmu. ...
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda,,kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
Aku menyesal telah asik dalam keegoanku..
Bunda maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat ditidurmu yang panjang.
Maafkan aku , tak bisa bersikap adil dan membahagiakan mu, aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana ?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana ? Tetap setia di alam sana ?
Tunggulah Ayah disana Bunda......
Bisakan ? Seperti Bunda menunggu ayah di sini...... Aku mohon.....
Ayah Sayang Bunda....

Gimana? Sudah netes air matanya?
Ini aku ambil dari Kaskus.co.id
Aku pengen kamu bisa jadi tokoh Fisha/Bunda di cerita ini
Aku pengen kisah kita besok,sama kayak di cerita ini
Tapi tanpa kanker,tanpa wanita kedua yang jadi istriku,Tanpa keluarga yang gak setuju
Cuman kamu sama aku,sekarang sampe selamanya :)
Baca Selengkapnya → Cerita untuk Saksiningtyas

Tuesday, July 30, 2013

Kunamakan ini percaya


Berikan medali pada hati ini
Karena telah sanggup menahan perih
Berbagai serpihan luka hati
Yang tersebarkan oleh memori

Pria itu
Ku hanya mampu mengenalnya sambil lalu
Pria yang pernah bersemayam dalam hatimu
Pria yang pernah menjadi pilihanmu

Entah kenapa kutakut ia menghantui
Kutakut rasamu akan kembali
Meninggalkanku yang mulai memberi hati
Pada pria yang selalu mencoba kembali

Kucoba tutupi hati
Berikan senyum tanpa arti
Agar kau tak pernah mengetahui
Rasa sakit yang teramat perih

Percaya
Hanya satu kata tersisa
Yang menetap di hati penuh duka
Di hati yang penuh bisikan hina
Baca Selengkapnya → Kunamakan ini percaya

Ningen

Aku melihat hewan buas dalam diriku
Yang tertidur dalam mimpi semu
Yang tertutup oleh pahala-pahala
Yang tak pernah kuduga

Terkadang manusia itu putih
Seperti benih
Masih rapuh,suci,bersih
Penuh cinta dan kasih

Lalu sesaat
Manusia menjadi sesat
Melakukan hal laknat
Dan terbiasa maksiat

Dalam hati,manusia rindu pada rasa damai yang hakiki
Dimana mereka bisa tidur seperti mati
Bermimpi akan surga ilahi
Dan bangun dengan damai hati
Baca Selengkapnya → Ningen

Puisi ini tak layak dibaca

Lalu lalang pria isi hatimu
Mencoba tuk memisahkanmu padaku
Sekuatnya menguji imanku
Akanmu

Banyak kenangan terselip dalam dirimu
Yang tak akan pernah berlalu
Yang selalu buatku malu
Akan diriku

Mereka selayaknya sempurna
Kurangnya tak ketara
Lebihnya penuh makna
Dimatamu,mereka indah

Aku merasa hina
Sekali lagi ku terluka
Kau terbangkan aku,buatku bahagia
Lalu kau dorong jatuh putus asa
Baca Selengkapnya → Puisi ini tak layak dibaca

Ajari aku mencinta

Ajari aku mencinta
Memberikan rasa indah
Terselip dalam raga
Ajari aku cinta

Bahagiakanmu tujuanku
Senyummu pembakar semangatku
Tangismu penghancur hatiku
Dirimu milikku

Hembusan lembayung senja
Indah diatas sana
Menyemburkan rasa tenang dalam jiwa

Ajari aku cinta
Ajari aku rasa
Sesuatu indah,tak pernah kurasa
Ajari aku cinta
Baca Selengkapnya → Ajari aku mencinta

Posesif

Sayangku,duduklah sejenak bersamaku
Dan dengarkan

Walau ragamu tak pernah tersentuh
Kutahu itu hanya milikku
Dan berjanjilah,sesedikit itu
Engkau untukku

Dan ketika esok hari
Nafasku tak terhembus kembali
Menangislah,diatas pusara abadi
Kesedihan yang tertumpuk sunyi

Jika tuhan sampai hati
Memisahkanku dengan engkau,sang pujaan hati
Maka kurelakan kau sang empunya diri
Kepada seseorang yang lebih memahami

Sungguh aku lebih bahagia
Melihatmu tersenyum,walau dengannya
Karena kutahu,seindah apapun dirinya
Engkau melihat bayangku dalamnya
Baca Selengkapnya → Posesif

Sepucuk surat dan sekerat roti

Sepucuk surat dan sekerat roti ini
Kutujukan padamu

Sepucuk surat ini
Berisi permintaan maafku
Atasmu
Atas segala hal salah diriku

Sekerat roti ini
Sebagai pengganti
Diriku
Yang jarang ada untukmu

Semoga kisah kita lebih abadi
Dari masa buruk roti ini
Dan layunya serat kertas ini
Dan dari masa yang tak pernah mengerti
Baca Selengkapnya → Sepucuk surat dan sekerat roti

Thursday, July 25, 2013

Rasaku

Dalam hati sejenak ku merasa sendiri
Seakan dunia tak ingin mengenalku lagi
Meleburkan kenangan akanku dalam kendi benci
Melumat semua kelakuanku dalam piring saji

Ketika kumelakukan semua untuknya
Untuk mereka
Namun dapatku tak sama
Tak setara

Hanya kepuasan diri yang tersisa
Mencoba menyeret senyum yang terpaksa
Membahagiakan orang yang tercinta
Namun tak mencinta

Ketika terangku telah pergi
Hanya gelap yang sanggup menemani
Bahkan bahagia enggan menghampiri
Hingga benci ada disisi

Sidoarjo,25 Juli 2013
Baca Selengkapnya → Rasaku

Seucap kataku tersurat untukmu

Ketika tak sengaja ku raih senyummu
Semerbak rasa menyeruak dalam tubuhku
Laiknya candu
Aku terikat denganmu

43 hari telah berlalu
Namun tetap rasa itu takkan layu
Engkau jadikanku teristimewa dalam hatimu
Terima kasih dariku untukmu

Raga ini milikmu,seluruhnya
Seutuhnya
Kau sempurnakan kurangku
Kau bataskan lebihku

Wahai dirimu yang duduk tersenyum di bangku itu
Kumencintaimu
Sampai ajak tak mengerti waktu


Sidoarjo ,24 Juli 2013
Baca Selengkapnya → Seucap kataku tersurat untukmu

Sunday, July 21, 2013

Maafkan aku

Maafkan aku
Yang tak berguna berada disampingmu
Yang bersumpah setia terus bersamamu
Maafkan aku

Maafkan aku
Yang tak pernah ada ketika engkau memanggilku
Yang hilang ketika dunia meruntuhkanmu
Ketika cahaya pergi dari senyummu

Maafkan aku
Yang selalu menyusahkanmu
Menambah beban pada pundakmu
Maafkan aku

Kujanjikan suatu hari nanti
Ketika kita bertemu
Dalam satu hari pasti
Hanya engkau dan aku
Baca Selengkapnya → Maafkan aku

Tuesday, June 18, 2013

Nikmatnya seorang "Kopi"

Tuhan
Hamba ingin bicara dengan anda
Hanya kita berdua
Aku suka dengan seorang pemuda

Aku suka dengan tawanya
Warna kulitnya,cara bicaranya,senyumnya
Dia bagaikan tiada celahnya
Kusuka dia,walau baru terasa

Jika engkau tak ijinkan aku bersamanya,Tuhan
Maka biarkan aku mencintainya dalam diam
Menyayanginya dalam sunyi
Dan mengamatinya dengan hening

Berikan dia kemudahan dalam hidupnya,Tuhan
Sadarkan dia,bahwa kudisini untuknya
Dekatkanlah kita berdua,Tuhan
Agar tak ada lagi air mata menetes untuknya

Walau telah terdapat wanita dalam hatinya
Maka,bisakah Engkau menjadikanku
Seorang yang pantas menggantikan wanita itu,Tuhan

Aku ingin membahagiakan dia
Seperti yang telah ia lakukan kepadaku
Aku ingin membuat dia bangga
Telah memiliki wanita sepertiku

Aku inginkannya,Tuhan
Dan hamba memohon agar Engkau mengijinkan
Baca Selengkapnya → Nikmatnya seorang "Kopi"